Guru Banyumas Ikuti Workshop Penyusunan Soal USBN Berbasis HOTS

Banyumas, Humas Ma’arif, Workshop penyusunan soal ujian sekolah berstandar nasional (USBN) jenjang SD/MI dilaksanakan untuk membekali guru agar lebih berkompeten dalam menyusun soal. Selain workshop, para guru juga di seleksi untuk menyusun soal USBN. Sehingga diharapkan akan menghasilkan butir soal yang berkualitas dan berstandar.

 

Hal itu disampaikan Ani Widosari selaku ketua panitia dalam workshop penyusunan soal HOTS USBN jenjang SD/MI yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas di Purwokerto, Selasa (8/1).

 

Ani menjelaskan bahwa USBN akan menggunakan soal yang berbasis HOTS, artinya soal yang tersedia akan memaksimalkan potensi daya olah pikir tinggi dan keterampilan peserta didik secara optimal.

 

“HOTS merupakan akronim dari high order thinking skill, dimana setiap soal bersifat kontekstual dan tidak mengedepankan soal yang sukar. Soal yang suskes bukan berarti harus sukar dikerjakan, namun sesuai dengan konteks pembelajaran yang dilakukan,” terangnya.

 

Dikatakan, mulai tahun ini kewenangan soal mutlak ada pada Dinas Pendidikan Kabupaten atau Kota. Sehingga setiap daerah mengatur sendiri kebutuhan soal secara independen, transparan dan kontekstual serta akuntabel, tambah Ani.

 

“Seluruh peserta workshop diberi tugas untuk menyusun soal USBN berbasis HOTS. Peserta membuat soal untuk tiga mata pelajaran yang diujikan sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan oleh panitia,” jelasnya.

 

Salah satu peserta workshop, Lutfi Widad, guru asal MI Ma’arif NU 1 Batuanten, Cilongok menyampaikan bahwa perubahan Kurikulum 2013 revisi mengisyaratkan perubahan mendasar dalam penyusunan soal.

 

“Setiap butir soal harus sesuai dengan perkembangan peserta didik. Hal ini tentu berkonsekuensi pada kontekstualisasi terhadap indikator dan kompetensi dasar pembelajaran,” jelas guru perempuan yang mengampu Kelas VI itu.

 

Lutfi berharap dengan workshop ini dapat memberikan satu persepsi dalam penyusunan dan hasil butir soal. Sehingga setiap butir soal tidak menimbulkan kesukaran dan pemahaman yang ganda, tambah Lutfi.

 

“Apabila soal HOTS dapat diterapkan, akan mempermudah bagi guru untuk mengambil konteks pembelajaran yang diajarkan dikelas. Peserta didik akan merasa nyaman dalam mengerjakan, sebab soal yang nantinya mereka kerjakan telah dilakukan sebagai pengalaman hasil pembelajaran,” pungkas alumnus Pascasarjana IAIN Purwokerto itu. (Musmuallim Ma’arif)

Post Author: adminweb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *